Mahasiswa Harapkan Rektor UGM 2022-2027 Segera Bangun Gelanggang

Info Kampus  
Gedung Pusat UGM. (foto : heri purwata)

JURNAL PERGURUAN TINGGI -- Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta sudah dua tahun terakhir tidak memiliki Gelanggang Mahasiswa sebagai tempat berekspresi. Karena itu, mereka menuntut komitmen Calon Rektor UGM tentang pembangunan kembali Gedung Gelanggang Mahasiswa.

Keinginan tersebut diungkapkan Ketua Forum Komunikasi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Bram Kusuma Setyahadi dalam Sarasehan bertajuk 'Nyawiji Menuju UGM-1.' Mahasiswa Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik Fisipol UGM ini menginginkan adanya kejelasan dari calon rektor tentang pembangunan gedung untuk kegiatan mahasiswa.

Saresehan secara virtual tersebut diikuti enam Calon Rektor UGM yaitu Prof Dr Ali Agus, DAA, DEA, IPU, ASEAN Eng, Prof Dr Ir Bambang Agus Kironoto, Prof Dr Ir Deendarlianto, ST, MEng, Prof dr Ova Emilia, MMed, Ed, SpOG (K), PhD, Prof Dr Sigit Riyanto, SH, LLM, serta Prof drh Teguh Budipitojo, MP, PhD. Mereka telah lolos seleksi administrasi sebagai Calon Rektor UGM periode 2022-2027.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Bram menjelaskan sudah dua tahun terakhir mahasiswa UGM tidak lagi memiliki fasilitas yang memadai setelah Gelanggang Mahasiswa diruntuhkan. Padahal Gelanggang Mahasiswa itu bisa menampung 49 UKM dan 26 komunitas.

BACA JUGA : GamaBox Connect, Pendeteksi Dini Tanah Longsor Berbasis Big Data

“Kita ingin adanya komitmen, kejelasan dan kepastian pembangunan melalui transparansi yang melibatkan mahasiswa. Lalu mengakomodir kebutuhan mahasiswa dan fasilitas ramah difabel dalam pembangunan fasilitas kemahasiswaan, baik itu Gelanggang Mahasiswa, GOR mahasiswa dan kawasan kerohanian,” kata Bram.

Selain fasilitas kegiatan kemahasiswaan, Bram juga menyoroti soal diperlukannya standarisasi dan monitoring Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Sebab dari hasil survei mahasiswa, sekitar 28,90 persen mahasiswa sulit berkoordinasi dengan DPL. Padahal salah satu tugas DPL adalah menjembatani komunikasi antara mahasiswa dengan pemerintah daerah.

Sedang Rahmad Said, anggota pengurus Himpunan Mahasiswa Pascasarjana UGM mengatakan keenam calon rektor perlu mengembangkan kebijakan link and match untuk kegiatan dan program Tridarma Perguruan Tinggi. Di samping itu, diperlukan adanya pemetaan yang jelas soal isu radikalisme di kampus. “Bukan masalah sekarang saja tapi juga yang terdahulu sehingga ada solusi yang bisa dirangkai dalam kebijakan yang dikeluarkan,” kata Rahmad Said.

BACA JUGA : Mardhani Rintis Kemandirian Teknologi Big Data dan Cloud Computing di Indonesia

Dosen Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik Fisipol UGM, Dr Gabriel Lele mengatakan Calon Rektor UGM diharapkan mampu menjadi katalisator transformasi dalam berbagai aspek serta mengawal perubahan. Gabriel Lele mengharapkan Rektor UGM merupakan figur yang sudah selesai dengan dirinya.

"Rektor menjadi 'terminal,' bukan halte menuju terminal berikutnya. Jadi tugas rektor benar-benar menjadi katalisator serta mengawal perubahan," kata Gabriel Lele sambil menambahkan Rektor mampu membuka ruang dan kanal imajinatif kolektif serta mentradisikan budaya dialog, mendorong kontestasi dan kolaborasi ide.

BACA JUGA : Aplikasi Vital Sense, Pemantau Kesehatan Pasien Selama 24 Jam

Sementara Guru Besar FMIPA UGM, Prof Drs. Mudasir, MEng,PhD, mengatakan ada beberapa tantangan yang akan dihadapi UGM kedepan dalam berbagai aspek. Di antaranya, pendidikan dan pengajar, pengabdian masyarakat, publikasi dosen, sumber daya manusia (SDM) dosen, serta manajemen dan tata kelola. Ia berharap rektor UGM terpilih nantinya membuat terobosan mengurai persoalan yang ada.

Ia mencontohkan pada aspek SDM dosen masih terjadi ketidakseimbangan antara rasio mahasiswa-dosen, doktor-non doktor, guru besar-non guru besar. Berikutnya, beban dosen di luar mengajar dan membimbing hingga persoalan jenjang karir dan kenaikan pangkat dan jabatan dosen serta isu pengakatan guru besar, profesor emiritus dan profesor tidak tetap.

Dalam aspek manajemen dan tata kelola, UGM masih dihadapkan pada persoalan manajemen yang gemuk di mana lebih dari 40 persen dosen adalah pejabat. Hal itu menyebabkan tidak tersedia lagi ruang dan waktu untuk pengembangan diri dan keilmuan. "Lalu sekat antar fakultas/pusat studi/lembaga/departemen yang masih tebal sehingga kerja sama, sinergi dan pembagian sumber daya tidak optimal," tandasnya.

Kemudian di aspek publikasi dosen, jumlah publikasi yang tinggi belum diimbangi dengan sitasi yang memadai dan sebaran yang tidak merata antar bidmag studi. Publikasi yang merupakan joint publication dengan institusi terkenal masih terbatas dan sejumlah persoalan lainnya. (*)

Ikuti informasi penting tentang berita terkini perguruan tinggi, wisuda, hasil penelitian, pengukuhan guru besar, akreditasi, kewirausahaan mahasiswa dan berita lainnya dari JURNAL PERGURUAN TINGGI. Anda juga bisa berpartisipasi mengisi konten di JURNAL PERGURUAN TINGGI dengan mengirimkan tulisan, foto, infografis, atau pun video. Kirim tulisan Anda ke email kami: heri.purwata@gmail.com.

Berita Terkait

Image

Pewarna Alami Miliki Prospek Cerah di Pasaran Global

Image

Program Magang Untungkan Mahasiswa dan Pengusaha

Image

Tiga Bahaya Konsumsi Telur Mentah

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image