APTISI Yogyakarta Mencari Solusi Atasi Klithih

News  
Prof Fathul Wahid saat memberikan sambutan pada diskusi di STIPRAM Yogyakarta, Senin (18/4/2022). (foto : heri purwata)

JURNAL PERGURUAN TINGGI -- Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Wilayah V Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) prihatin atas maraknya klithih atau Kejahatan Jalanan Remaja yang mencuat kembali di awal Ramadhan 1443 H. Seorang pelajar Yogyakarta asal Kebumen tewas menjadi korban kejahatan jalanan remaja tersebut.

Aksi kejahatan jalanan remaja. di Yogyakarta ini sangat berpengaruh terhadap minat orang tua luar DIY yang ingin menyekolahkan atau menguliahkan anaknya di Yogyakarta. Pengalaman ini diungkapkan Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (STIPRAM) Yogyakarta, Dr Suhendroyono, SH, MM, MPar, CHE pada Diskusi 'Yogyakarta Kota Pelajar : Merumuskan Solusi Kejahatan Jalanan Remaja' yang digelar di kampus tersebut.

"Mengapa kejahatan jalanan remaja didiskusikan? Karena ini menyangkut Yogyakarta sebagai Kota Pelajar. Di STIPRAM sendiri sudah ada calon mahasiswa dari Banjarmasin Kalimantan Selatan sudah mendaftar, tetapi mendengar aksi kejahatan jalanan remaja di Yogyakarta, menarik kembali pendaftarannya," kata Suhendroyono dengan nada sedih.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Diskusi menghadirkan empat pembicara yaitu Endang Patmintarsih SH, MSi, Kepala Dinas Sosial DIY dengan tema 'Kebijakan Pemda DIY Menangani Kejahatan Jalanan Remaja.' Kedua, AKBP Sinungwati SH, MH, Kasubdit Babinkamtibmas Polda DIY yang mengangkat tema 'Pera Polda DIY dalam Pencegahan Kejahatan Jalanan Remaja. Ketiga, Puji Qomariyah SSos,MSi, Dosen Sosiologi dan Wakil Rektor III Universitas Widya Mataram (UWM) yang mengangkat tema 'Tinjauan Sosiologis Kejahatan Jalanan Remaja.' Keempat, Jatu Anggraeni SPsi, MPsi, Psikolog, Dosen Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) yang mengangkat tema 'Perspektif Psikologis Kejahatan Jalanan Remaja.'

BACA JUGA : Sosiolog: Privatisasi Ruang Publik Memicu Aksi Klithih

Ketua APTISI DIY, Prof Fathul Wahid ST, MSc, PhD juga menceritakan tentang kawannya yang juga seorang rektor menarik kembali putranya yang sudah sekolah di Yogyakarta. Seorang rektor tersebut sudah mencarikan kos-kosan untuk anaknya. Tetapi baru beberapa hari bersekolah, anaknya didatangi sekelompok kawannya di SMA yang mengajak bergabung sebuah Geng Motor.

Tampaknya anaknya mengalami ketakutan dan melaprokan kejadian tersebut kepada orangtuanya. Sehingga sang rektor teman Fathul Wahid itu menarik kembali anaknya dan tidak jadi sekolah di Yogyakarta. Selanjutnya, anak tersebut disekolahkan di SMA di kota asalnya.

"Perasaan orangtua yang jauh dengan anaknya merasa khawatir ketika mendengarkan ada berita miring, berita kekerasan di Yogyakarta. Itu berapa saja kerugian kita dan dampaknya tidak bisa disepelekan," kata Fathul Wahid.

BACA JUGA : Fathul Wahid Terpilih Sebagai Rektor UII 2022-2026

Karena itu, APTISI memandang kejahatan jalanan remaja merupakan masalah serius. Sehingga perlu dicari solusinya yang operasional dan bisa terapkan oleh pemerintah, aparat keamanan, kampus/sekolah, keluarga, lembaga keagamaan, agar Yogyakarta tetap nyaman bagi pelajar dan mahasiswa.

Sementara Prof drh Aris Junaidi, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah V DIY mengatakan kejahatan jalanan remaja ini merupakan masalah yang sudah lama sekali terjadi di Yogyakarta. Ia masih ingat peristiwa beberapa tahun lalu, ada mahasiswa yang sedang membagi makanan untuk sahur di jalanan. Saat membagi makanan sahur diserang pelaku kejahatan jalanan remaja dan meninggal dunia.

"Selama ini berita kematian yang diakibatkan klitih hanya heboh sesaat. Tetapi tidak ada efek jera bagi pelaku. Kejadian terus beruntun hingga saat ini. Karena itu, perlu dirumuskan solusinya, baik jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang," harap Aris Junaidi.

Aris Junaidi memadang kejahatan jalanan remaja kalau sudah sampai membunuh sudah merupakan hal yang sangat jahat dan harus ditumpas, tidak perlu memandang umur. Karena itu, sudah menghilangkan nyawa orang lain. "Berbeda dengan tawuran. Diskusi ini merupakan inisiatif yang luar biasa dan mudah-mudah ada soslusinya. Sehingga bisa menciptakan Yogyakarta betul-betul aman," tandasnya. (*)

BACA JUGA : IISMA Mempersiapkan Mahasiswa Menjadi Warga Global

Empat pembicara sedang menyampaikan materi tentang kejahatan jalanan remaja. (foto : heri purwata)

Ikuti informasi penting tentang berita terkini perguruan tinggi, wisuda, hasil penelitian, pengukuhan guru besar, akreditasi, kewirausahaan mahasiswa dan berita lainnya dari JURNAL PERGURUAN TINGGI. Anda juga bisa berpartisipasi mengisi konten di JURNAL PERGURUAN TINGGI dengan mengirimkan tulisan, foto, infografis, atau pun video. Kirim tulisan Anda ke email kami: heri.purwata@gmail.com.

Berita Terkait

Image

Pembentukan LAM Ancam Keberlanjutan PTS

Image

Sosiolog: Privatisasi Ruang Publik Memicu Aksi Klithih

Image

Kepercayaan Publik terhadap Para Ahli Menurun, Mengapa?

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image