Supply Chain Model SCOR 12.0 Racetrack Dapat Menekan Kerugian Perusahaan

Teknologi  
Wiwit Hadi Suwito saat memberikan penjelaskan kepada wartawan secara virtual, Rabu (21/9/2022). (foto : screenshootzoom/heri purwata)

JURNAL PERGURUAN TINGGI -- Model Supply Chain Operations References (SCOR) 12.0 Racetrack sangat fleksible mengikuti perubahan jumlah permintaan produk. Sehingga Model SCOR 12.0 Racetrack ini dapat dikembangkan sebagai sistem pengadaan produk yang fleksibel dan membuat perusahaan menjadi lebih efisien.

Demikian hasil penelitian Wiwit Hadi Suwito MT, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Industri Program Magister Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (FTI UII) kepada wartawan secara virtual Rabu (21/9/2022). Wiwit mengemukakan hal itu didampingi Ir Andrie Paska Hendradewa ST, MT, IPM, Manajer Administrasi Keilmuan Prodi Magister Teknik Industri dan Dr Ir Elisa Kusrini MT, Dosen Prodi Magister Teknik Industri FTI UII.

BACA JUGA : Hasil Penelitian Dosen UNY, Serat Rami Bisa Jadi Bahan Anti Peluru

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Lebih lanjut Wiwit menjelaskan peran supply chain management (SCM) untuk menghadirkan produk yang murah dan berkualitas belum cukup menjamin kelangsungan usaha. Namun perusahaan perlu menerapkan kebijakan untuk menghadapi perubahan jumlah permintaan produk tertentu, salah satunya menentukan tingkat backorder, dan perusahaan harus dapat mengelola persediaan perusahaan dengan baik.

Berdasarkan permasalahan tersebut Wiwit melakukan penelitian Tesis tentang studi kasus di perusahaan alat berat untuk pertambangan, pertanian/perkebunan, konstruksi, dan kehutanan di Indonesia, PT Kobexindo Tractors Tbk. Judul Tesis 'Performance Improvement of Asset Management Efficiency menggunakan Supply Chain Operations References Model (SCOR) 12.0 Racetrack.'

BACA JUGA : Budaya Organisasi Memiliki Pengaruh Dominan terhadap Produktivitas Manajer

Fokus penelitian pertama, cara meningkatkan efisiensi inventori supaya nilainya bisa optimal berdasarkan SCOR 12.0 Racetrack. Kedua, atribut apa saja yang perlu dioptimalkan berdasarkan SCOR Racetrack. Ketiga, usulan perbaikan yang harus dilakukan dalam upaya peningkatan kinerja inventori/asset.

"Perusahaan ini mengalami masalah dengan penumpukan persediaan suku cadang, terutama sejak Covid-19 menyebabkan penurunan penjualan dan peningkatan jumlah stok. Kelebihan persediaan dapat menyebabkan pemborosan karena perusahaan perlu mengeluarkan modal lebih untuk biaya persediaan," kata Wiwit.

Berdasarkan wawancara dan observasi, jelas Wiwit, diketahui pandemi Covid-19 saat ini telah menurunkan kinerja perusahaan yaitu bertambahnya jumlah produk yang tidak laku dan mengalami long aging. Tahun 2020, penjualan turun drastis yang mengakibatkan kerugian. Selain itu, pesanan barang atau suku cadang dari alat berat juga mengalami penurunan.

Hal ini, tambah Wiwit, menjadi masalah besar bagi perusahaan karena jumlah produk long aging semakin banyak dan manajemen terkait produk di gudang semakin sulit dikendalikan. Berdasarkan hasil pengukuran kinerja rantai pasok diketahui bahwa pada AM 3,37 Persentase Kelebihan Persediaan yang terjadi per tahun adalah 30,86% dan untuk AM. 3,35 hari persediaan barang jadi mencapai 1.022 hari untuk tahun 2021 dari Januari-Oktober.

Dari hasil analisis menggunakan fishbone diagram dapat diketahui bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kelebihan persediaan adalah metode, bahan, manusia, lingkungan, dan uang. Kemudian faktor-faktor yang mempengaruhi lamanya hari persediaan barang di gudang adalah metode, material, man, dan environment.

BACA JUGA : Dr Qurtubi, Dosen UII dan Reviewer Jurnal Internasional Bereputasi

Berdasarkan matriks prioritas, kata Wiwit, proyek perbaikan yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah yang teridentifikasi adalah mengembangkan sistem pengadaan. Wiwit juga mengusulkan perbaikan sistem pengadaan perusahaan. Usulan tersebut langsung diterima untuk memperbaiki kinerja perusahaan.

"Hasilnya, Model SCOR 12.0 Racetrack dapat memangkas lama persediaan barang dari 1.022 hari atau hampir tiga tahun menjadi 18 bulan. Kita menargetkan lama persediaan barang tersimpan di gudang selama 16 bulan," tandas Wiwit.

Sementara Elisa Kusrini mengatakan hasil penelitian ini merupakan bukti jika mahasiswa Magister Teknik Industri FTI UII tidak hanya piawai sebagai akademisi, tetapi juga praktisi. Hasil penelitian ini tidak hanya diterapkan pada PT Kobexindo Tractors Tbk saja, namun bisa diterapkan pada perusahaan-perusahaan lain. (*)

BACA JUGA : Insenerator Kreasi FTI UII Efektif Lenyapkan Sampah Residu

Elisa Kusrini dan Wiwit Suwito saat press conference secara virtual. (foto :screenshootzoom/jerry irgo)

Ikuti informasi penting tentang berita terkini perguruan tinggi, wisuda, hasil penelitian, pengukuhan guru besar, akreditasi, kewirausahaan mahasiswa dan berita lainnya dari JURNAL PERGURUAN TINGGI. Anda juga bisa berpartisipasi mengisi konten di JURNAL PERGURUAN TINGGI dengan mengirimkan tulisan, foto, infografis, atau pun video. Kirim tulisan Anda ke email kami: heri.purwata@gmail.com.

Berita Terkait

Image

Program Magister Informatika UII Cetak Pribadi Orisinal

Image

Pakar Digital Forensik UII Ingatkan Pengelola Data Lebih Hati-hati

Image

Bridging, Mudahkan Mahasiswa Baru Program Internasional Teknik Industri UII Ikuti Kuliah

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image