UGM Dukung Kampanye Program Makan B2SA untuk Hadapi Krisis Pangan

Gaya Hidup  
Arief Prasetyo Adi saat menyampaikan materi Kuliah Umum di UGM Yogyakarta. (foto : istimewa)

JURNAL PERGURUAN TINGGI -- Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi mengatakan pihaknya sedang menggalakkan Program Gerakan Makan Enak, Makan Sehat, Makan B2SA (Beragam, Bergizi Seimbang dan Aman) Goes To Campus. Makan B2SA ini bertujuan untuk mengantisipasi terjadinya krisis pangan di masa depan.

Arief Prasetyo Adi mengemukakan hal tersebut pada Kuliah Umum berjudul 'Kebijakan Pangan Nasional dan Pentingnya Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan' di Balai Senat UGM Yogyakarta, Jumat (23/9/2022). Kampanye ke kampus bertujuan untuk mempromosikan dan mengedukasi pangan B2SA.

BACA JUGA : Sarapan Sumber Energi Tubuh untuk Mendukung Aktivitas, Jangan Lewatkan

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Program ini, lanjut Arief, meningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) keamanan pangan, pengawasan terpadu keamanan pangan segar, pengembangan menu B2SA pada kantin kampus. Selain itu, juga bertujuan untuk menerapkan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) melalui pendampingan kegiatan B2SA di masyarakat oleh mahasiswa.

Dijelaskan Arief Prasetyo, saat ini, banyak negara tengah dihadapkan pada krisis global, baik di sektor energi, pangan dan keuangan. Hal ini terjadi sebagai dampak dari perubahan iklim ekstrim, pandemi Covid-19, ketidakpastian perekonomian global, terjadinya tensi geopolitik, dan disrupsi pasokan.

"Kondisi tersebut mengakibatkan harga pangan naik dan pembatasan ekspor pangan oleh sejumlah negara. Karena itu penganekaragaman konsumsi pangan berbasis potensi dan kearifan lokal sangat penting sebagai alternatif dalam menghadapi krisis pangan yang terjadi," kata Arief Prasetyo.

BACA JUGA : Diet Sehat Turunkan Berat Badan

Dalam situasi krisis pangan, tambah Arief, beberapa negara produsen pangan di dunia mengambil kebijakan restriksi ekspor terhadap komoditas tertentu, seperti gandum, gula, daging sapi, dan kedelai. Sejumlah negara seperti Rusia, India, dan Ukrania membatasi ekspor gandum.

Pembatasan ekspor ini berakibat pada naiknya harga komoditas pangan global. "Oleh karena itu Indonesia harus menyikapi dengan mengoptimalkan potensi pangan dalam negeri," tegas Arief.

Saat ini, jelas Arief, Indonesia masih menghadapi masalah keamanan pangan, di antaranya, penolakan ekspor dan masalah penyakit bawaan pangan (foodborne disease). Hal ini menimbulkan dampak sosioekonomi seperti menurunnya produktivitas masyarakat hingga penurunan citra negara di mata dunia.

Selain itu, Indonesia juga menghadapi persoalan lain yaitu ketahanan pangan. Merujuk peta ketahanan dan kerentanan pangan Indonesia saat ini masih terdapat 74 kabupaten/kota yang rentan rawan pangan.

Berdasarkan angka Prevelance of Undernourishment (PoU) Tahun 2021 yang merupakan indikator SDGs ke-2, sebanyak 23,1 juta jiwa penduduk Indonesia (8,49%) mengkonsumsi kalori kurang dari standar minimum untuk hidup sehat, aktif dan produktif. Jumlah tersebut meningkat sebesar 510 ribu jiwa (0,15%) dibandingkan tahun 2020.

"Salah satu alternatif dalam menjamin ketahanan pangan nasional adalah dengan meningkatkan penganekaragaman konsumsi pangan lokal," kata Arief Prasetyo.

Ia membeberkan data berdasarkan Skor Pola Pangan Harapan (PPH) diketahui bahwa kualitas konsumsi pangan penduduk Indonesia belum beragam, bergizi seimbang. Hal ini terlihat dari masih tingginya dominasi konsumsi padi-padian serta minyak dan lemak dan kurangnya konsumsi protein hewani, sayur dan buah, serta umbi-umbian. Sedang pemenuhan konsumsi pangan, diperlukan jaminan keamanan pangan untuk meningkatkan daya saing produk pangan lokal di pasar global.

Arief mengatakan Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman hayati sehingga memiliki potensi tinggi untuk melakukan penganekaragaman konsumsi pangan. Sebab dengan penganekaragaman pangan diharapkan bisa melepas keterganrungan pada satu jenis pangan tertentu. Potensi penganekaragaman pangan ini dikembangkan dengan memanfaatkan pangan lokal secara masif dan pengembangan inovasi, serta formulasi rekayasa sosial. (*)

BACA JUGA : 12 Mahasiswa Fakultas Pertanian UGM Ikuti Program MBKM Teliti Bibit

Kuliah Umum yang diisi oleh Kepala Badan Pangan Nasional di UGM. (foto : istimewa)

Ikuti informasi penting tentang berita terkini perguruan tinggi, wisuda, hasil penelitian, pengukuhan guru besar, akreditasi, kewirausahaan mahasiswa dan berita lainnya dari JURNAL PERGURUAN TINGGI. Anda juga bisa berpartisipasi mengisi konten di JURNAL PERGURUAN TINGGI dengan mengirimkan tulisan, foto, infografis, atau pun video. Kirim tulisan Anda ke email kami: heri.purwata@gmail.com.

Berita Terkait

Image

UGM Gagal Pertahankan Juara Umum di PIMNAS ke-35, Apa Saja Medalinya?

Image

Pakar Hukum Tata Negara UGM : Cawapres Harus Cakap, Ulet dan Loyal

Image

Prof Sarto: Teknik Kimia Harus Mampu Beradaptasi dengan Era Industri 4.0

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image