Ahli Geografi UGM: Minim Pengetahuan Pentingnya Ekosistem Padang Lamun

Teknologi  
Padang Lamun

JURNAL PERGURUAN TINGGI -- Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang juga peneliti padang lamun, Dr Pramaditya Wicaksono mengemukakan masih banyak masyarakat yang belum mengetahui pentingnya ekosistem padang lamun (seagrass). Minimnya pengetahuan dan popularitas, pengelolaan ekosistem padang lamun ini terjadi hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, sehingga pengelolaannya belum optimal.

Pramaditya mengemukakan hal tersebut pada workshop yang diselenggarakan Fakultas Geografi UGM bertajuk 'Peran dan Status Ketersediaan Data Lamun Indonesia untuk Mendukung Pengelolaan Wilayah Pesisir yang Berkelanjutan' di Yogyakarta, Selasa (30/8/2022). Akibatnya, padang lamun berkurang hampir satu hektare setiap 30 menit atau 2%-5% per tahun.

BACA JUGA : Tak Ada Dalil Pembentukan Negara Khilafah dalam Alquran dan Hadist

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Dijelaskan Pramaditya, padang lamun merupakan satu ekosistem karbon biru yang berada di wilayah pesisir dan didominasi vegetasi lamun (angiospermae). Ekosistem padang lamun sangat berperan menjaga kelangsungan hidup biota laut, membuat air laut jernih, dan menjadi stabilisator sedimen perairan.

Tumbuhan air berbunga itu juga melindungi bumi karena mampu mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan dan mitigasi perubahan iklim. Indonesia sendiri merupakan pusat keanekaragaman hayati padang lamun dan memiliki 5%-10% luas padang lamun dunia.

Berdasarkan hasil kajian Pusat Riset Oseanografi-BRIN (PRO-BRIN), luas padang lamun Indonesia yang diteliti baru mencapai 293.464 hektare atau sekitar 16%- 35% dari potensi sesungguhnya. Karena itu diperlukan riset pemetaan yang terintegrasi, komprehensif dan akurat untuk ketersediaan data padang lamun wilayah pesisir di Indonesia.

BACA JUGA : Indonesia Perlu Kembalikan Kedaulatan dan Kemandirian Maritim

Pramaditya mengusulkan untuk mengoptimalkan peran ekosistem, padang lamun perlu dikelola secara berkelanjutan. Upaya yang bisa dilakukan dengan memetakan distribusi spasial dan temporal, beserta informasi biofisik, dari variasi spesies, persentase tutupan, biomassa, cadangan karbon, dan laju serapan karbon. “Ketersediaan informasi sangat penting untuk menganalisis dinamika pada ekosistem padang lamun,” kata Pramaditya.

Menurutnya, untuk mendapatkan informasi soal ketersediaan data padang lamun dapat menggunakan metode penginderaan jauh. Ini merupakan teknologi paling optimal yang dapat memetakan distribusi spasial dan temporal padang lamun. “Kami terus mengembangkan metode pengolahan data penginderaan jauh untuk memetakan padang lamun secara akurat, efektif, dan efisien,” katanya.

Pramaditya juga menjelaskan, pihaknya kini tengah mengembangkan algoritma dan toolbox pengolahan citra digital penginderaan jauh yang dapat digunakan untuk pemetaan stok karbon atas permukaan dan sekuestrasi karbon ekosistem padang lamun secara otomatis. Rencananya berdasarkan hasil pemetaan tersebut, dapat diidentifikasi lokasi-lokasi ekosistem padang lamun yang perlu dilakukan perlindungan dan atau pemulihan. “Kami ingin dapat memetakan dinamika padang lamun di Indonesia melalui penginderaan jauh multitemporal,” ujarnya.

BACA JUGA : Mahasiswa KKN PPM UGM Promosikan Kecamatan Plumpang, Tuban

Sedang Rektor UGM Prof dr Ova Emilia, MMed, Ed, SpOG (K), PhD, dalam sambutan pembukaan mengatakan peneliti UGM saat ini bekerja sama dengan berbagai lembaga dalam dan luar negeri. Mereka tengah menyusun peta data lamun yang terintegrasi, nir biaya melalui teknologi metode penginderaan jauh untuk memetakan berbagai macam parameter ekosistem karbon biru, termasuk padang lamun dan hutan mangrove.

Menurut Rektor UGM, keberadaan padang lamun sangat penting dalam penghasil karbon biru dunia dan mitigasi perubahan iklim. “Karbon di padang lamun lebih tinggi dari hujan tropis. Penting keberadaan padang lamun ini untuk mitigasi perubahan iklim dan salah satu sumber daya alam penting yang perlu dikelola secara berkelanjutan,” kata Ova.

Ova juga menyebutkan padang lamun sebagai penyedia ekosistem biota laut dan penghasil karbon biru, baru dipetakan sekitar 16 hingga 35 persen dari potensi yang ada. Bahkan dari 110 lokasi padang lamun yang sudah dipetakan, sekitar 42 persen dalam kondisi kritis atau tidak sehat. "Kita perlu membanguna kerangka standar basis data peta seagrass (padang lamun) yang nir biaya, terintegrasi dan akurat,” ujarnya.

Sementara Dekan Fakultas Geografi UGM, Dr Danang Sri Hadmoko menuturkan pihaknya sudah mendirikan grup riset bernama Blue Carbon Research Group yang berfokus pada ekosistem karbon biru, terutama padang lamun dan hutan mangrove. "Kami berharap ekosistem padang lamun mendapatkan perhatian yang lebih baik lagi dari saat ini dan benar-benar dikelola secara berkelanjutan. Dengan begitu, jasa-jasa ekosistemnya dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim betul-betul dapat dioptimalkan,” kata Danang. (*)

BACA JUGA : Fisipol UGM Luncurkan LMS Focus, Pembelajaran Online Bagi Publik

Ikuti informasi penting tentang berita terkini perguruan tinggi, wisuda, hasil penelitian, pengukuhan guru besar, akreditasi, kewirausahaan mahasiswa dan berita lainnya dari JURNAL PERGURUAN TINGGI. Anda juga bisa berpartisipasi mengisi konten di JURNAL PERGURUAN TINGGI dengan mengirimkan tulisan, foto, infografis, atau pun video. Kirim tulisan Anda ke email kami: heri.purwata@gmail.com.

Berita Terkait

Image

UGM Gagal Pertahankan Juara Umum di PIMNAS ke-35, Apa Saja Medalinya?

Image

Pakar Hukum Tata Negara UGM : Cawapres Harus Cakap, Ulet dan Loyal

Image

Prof Sarto: Teknik Kimia Harus Mampu Beradaptasi dengan Era Industri 4.0

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image