Tips Hadapi Resesi 2023, Cari Penghasilan Tambahan dan Penghematan

Ekonomi  
I Wayan Nuka Lantara. (foto : istimewa)

JURNAL PERGURUAN TINGGI -- Pengamat Perbankan, Keuangan, dan Investasi Universitas Gadjah Mada (UGM), I Wayan Nuka Lantara PhD memberikan dua tips menghadapi resesi tahun 2023. Pertama, mencari alternatif tambahan penghasilan selain dari gaji tetap setiap bulan. Kedua, identifikasi ulang pada pos-pos pengeluaran yang bisa dilakukan penghematan.

Dijelaskan I Wayan Nuka, mencari tambahan penghasilan salah satunya, memanfaatkan hobi untuk bisnis, seperti berjualan online dan tetaplah rutin berinvestasi. Apalagi saat ini sudah era digital sehingga peluang untuk berbisnis online terbuka lebar.

BACA JUGA : Tim Mahasiswa FBE UII Juarai 14th ERPSim International Competition

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Saat ditanya apakah masih aman melakukan investasi di masa resesi? Wayan menyebutkan bahwa investasi selama ini terbukti menjadi cara yang efektif untuk melawan dampak negatif inflasi. "Pilihan investasi yang cocok untuk mengantisipasi terjadinya krisis ekonomi global adalah menggeser bobot dana investasi kita lebih banyak pada aset investasi yang tergolong aman (safe haven)," kata Wayan Nuka di Yogyakarta, , Jumat (30/9/2022).

Ia mencontohkan jenis investasi yang aman dilakukan antara lain deposito, emas, surat berharga yang diterbitkan negara. Jika ingin melakukan investasi di saham, ia menyarankan sebaiknya invetasi pada saham-saham yang bergerak pada sektor industri yang defensif, tetap bisa bertahan meskipun ada krisis. "Misalnya saham perusahaan yang bergerak di industri consumer goods, kesehatan, bank, energi dan utilitas," katanya.

Sedang tips kedua, penghematan dilakukan pada pos-pos pengeluaran yang bisa ditunda. Dana untuk pos-pos tersebut bisa digunakan atau dialokasikan untuk menambah pos pengeluaran yang lebih mendesak.

BACA JUGA : Perguruan Tinggi Bertanggung Jawab Mencetak Akuntan Etis

Tips ini diungkapkan menyusul pernyataan Menteri Keuangan, Sri Mulyani yang memproyeksikan ekonomi dunia akan mengalami resesi pada 2023. Resesi disebabkan adanya lonjakan inflasi sebagai dampak dari konflik Rusia-Ukraina.

Peningkatan inflasi tersebut juga diikuti kebijakan pengetatan moneter oleh bank sentral di negara Eropa dan Amerika. Bank di Eropa dan Amerika menaikkan tingkat bunga acuan yang akan berdampak juga pada kebijakan yang diambil bank sentral di negara lainnya.

Dijelaskan Wayan, apabila bunga acuan meningkat, biaya modal dan bunga kredit yang akan ditanggung bisnis juga akan naik. Dampak selanjutannya biasanya diikuti mata uang lokal yang melemah terhadap mata uang asing.

"Jika suatu negara memiliki banyak pinjaman dalam mata uang asing baik oleh pemerintah maupun swasta maka jumlah mata uang lokal yang akan dikeluarkan untuk membayar pinjaman dalam mata uang asing juga akan meningkat," jelas Wayan.

Wayan menambahkan, jika kondisi tersebut tidak membaik, maka kombinasi rentetan harga produk yang meroket, inflasi yang meningkat, bunga acuan kredit yang naik. "Pelemahan mata uang lokal pada akhirnya akan berisiko menyebabkan terjadinya krisis ekonomi global," tambahnya. (*)

BACA JUGA : Supply Chain Model SCOR 12.0 Racetrack Dapat Menekan Kerugian Perusahaan

Ikuti informasi penting tentang berita terkini perguruan tinggi, wisuda, hasil penelitian, pengukuhan guru besar, akreditasi, kewirausahaan mahasiswa dan berita lainnya dari JURNAL PERGURUAN TINGGI. Anda juga bisa berpartisipasi mengisi konten di JURNAL PERGURUAN TINGGI dengan mengirimkan tulisan, foto, infografis, atau pun video. Kirim tulisan Anda ke email kami: heri.purwata@gmail.com.

Berita Terkait

Image

UGM Gagal Pertahankan Juara Umum di PIMNAS ke-35, Apa Saja Medalinya?

Image

Pakar Hukum Tata Negara UGM : Cawapres Harus Cakap, Ulet dan Loyal

Image

Prof Sarto: Teknik Kimia Harus Mampu Beradaptasi dengan Era Industri 4.0

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image