Sosiolog UGM: Sekarang, Demonstrasi tak Lagi Memobilisasi Massa ke Jalan, Mengapa?

Info Kampus  
Arie Sudjito. (foto : istimewa)

JURNAL PERGURUAN TINGGI -- Dr Arie Sudjito, Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mengungkapkan aktivis mahasiswa saat ini dituntut untuk memikirkan banyak hal dan ragam pilihan dalam menyampaikan ekspresi dan segala aktivitasnya. Sebab sekarang ini liberalisasi politik sudah berjalan dengan baik, kebebasan pers, desentralisasi, dan demiliterisasi.

Arie Sudjito mengungkapkan hal itu pada Diskusi Buku Aldera Potret Gerakan Politik Kaum Muda 1993-1999 di ruang Auditorium Mandiri Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM, Jumat (18/11/2022). Selain Arie Sudjito, juga tampil sebagai pembicara Penulis Buku dan mantan aktivis Aldera Teddy Wibisana, dan mantan aktivis 98 Nezar Patria.

BACA JUGA : Neoliberalisme Mengikis Peran Perguruan Tinggi sebagai Inkubasi Pemikiran Kritis

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Dijelaskan Arie Sudjito, di era Orde Baru, gerakan mahasiswa muncul karena proses demokrasi tidak berjalan sebagaimana mestinya dan tindakan represif negara cukup keras terhadap gerakan mahasiswa di kala itu. “Karenannya saat ini gerakan sosial mahasiswa tidak lagi identik memobilisasi massa secara fisik. Sekarang tersedia instrumen untuk mendistribusi informasi. Setiap sejarah punya cara sendiri,” katanya.

Menurut Arie, minimnya aksi mahasiswa turun ke jalan, bukan berarti para aktivis mahasiswa tidak berpolitik atau apolitis. Namun mereka kini memiliki cara pandang berbeda dalam menyampaikan aspirasi.

Karena itu, tambah Arie, diperlukan ruang lintas generasi agar mahasiswa tidak mengalami gap soal sejarah gerakan mahasiswa di masa lalu. “Jangan sampai ada patahan membaca sejarah. Jangan sampai seorang aktivis mengatakan enak (kebebasan dan kesejahteraan) zaman Orde Baru. Padahal banyak orang diculik dan diangkut," kata Arie.

Pemerintah Orde Baru banyak melakukan upaya tindakan represif dari berbagai aspek terjadi. Di antaranya, upaya penjinakan aktivis mahasiswa lewat Senat mahasiswa dan kebijakan NKK-BKK. "Dulu mahasiswa tidak berani (berorganisasi) di kampus, banyak keluar. Yang dipakai hanya cara bersiasat,” jelasnya.

BACA JUGA : Berbahan Lidah Buaya, Pupuk Baynic Inovasi Mahasiswa UII Lindungi Tanaman dari Hama

Sedang Nezar Patria menilai berjalannya proses demokratisasi di Indonesia dari buah reformasi menjadikan partai politik sekarang ini terlihat lebih dominan. Bahkan keberadaannya lebih kuat dibandingkan dengan peran lembaga non pemerintah (NGO) seperti di era tahun 90-an. “Kita bisa hitung sendiri, hanya NGO yang bergerak dalam gerakan HAM saja yang nampak sekarang ini, YLBHI dan Kontras. Dulu banyak sekali. Sekarang NGO banyak bergerak ke isu lingkungan,” kata Nezar.

Teddy Wibisana, berpesan seorang aktivis mahasiswa tidak boleh gentar dalam menyampaikan aspirasi dan pandangannya di sosial media sepanjang pandangannya dianggap benar. Bahkan jangan sampai takut menyampaikan pandangan atau kritik yang berisiko berhadapan dengan hukum.

“Selalu yakin dengan apa yang diperjuangkan. Jika merasa benar, semua tidak akan menjadi masalah. Kegalakan di sosial media memang sering berisiko berhadapan di depan hukum. Jangan sampai langsung membuat kita kendor,” tandas Teddy.

Sementara Anggota BPK RI, Pius Lustrilanang sebagai mantan aktivis 98 menyampaikan apresiasinya gerakan mahasiswa di dalam kampus saat ini tetap gigih membela dan memperjuangkan aspirasi rakyat. “Saya bersyukur masih ada BEM yang turun menolak Omnibus Law dan kenaikan harga BBM, kalian turun saat rakyat memanggil. Situasi saat ini berbeda, memahami politik sekarang ini sesuai pemahaman dan kreativitas kalian,” kata Pius. (*)

BACA JUGA : UAD Gelar Seminar dan Workshop Kampus dan Sekolah Cerdas Digital, Ini Tujuannya

Ikuti informasi penting tentang berita terkini perguruan tinggi, wisuda, hasil penelitian, pengukuhan guru besar, akreditasi, kewirausahaan mahasiswa dan berita lainnya dari JURNAL PERGURUAN TINGGI. Anda juga bisa berpartisipasi mengisi konten di JURNAL PERGURUAN TINGGI dengan mengirimkan tulisan, foto, infografis, atau pun video. Kirim tulisan Anda ke email kami: heri.purwata@gmail.com.

Berita Terkait

Image

UGM Gagal Pertahankan Juara Umum di PIMNAS ke-35, Apa Saja Medalinya?

Image

Pakar Hukum Tata Negara UGM : Cawapres Harus Cakap, Ulet dan Loyal

Image

Prof Sarto: Teknik Kimia Harus Mampu Beradaptasi dengan Era Industri 4.0

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image