Penelitian Simulasi Monte Carlo Antarkan Andrie Pasca Kuliah S3 di Norwegia

Tips  
Andrie Pasca Hendradewa. (foto : heri purwata)

ANDRIE PASCA HENDRADEWA ST, MT tidak menyangka jika penelitian Simulasi Monte Carlo yang dilakukan tahun 2018 mengantarkannya kuliah untuk meraih gelar doktor di Norwegian University of Science and Technology (NTNU). Selain itu, tugas mengajar yang diberikan Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (FTI UII) juga memiliki keterkaitan dengan penelitian yang bakal dikerjakan di Norwegia.

Andrie Pasca Hendradewa, dosen Program Studi Teknik Industi FTI UII menceritakan tahun 2018 melakukan penelitian yang dikerjakan sendiri. Penelitian yang berjudul Schedule Risk Analysis by Different Phases of Construction Project Using CPM-PERT and Monte-Carlo Simulation, mendapat pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UII.

BACA JUGA : Jundi Nourfateha, Mahasiswa IUP IE UII Presenter Pitch Deck Startup di Austria, Ini Ikhtiarnya

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Penelitian tersebut berfokus pada penilaian dan pengelolaan risiko jadwal proyek konstruksi perumahan yang terbagi ke dalam tiga fase utama, yaitu studi kelayakan, desain, dan konstruksi. Pendekatan matematika seperti CPM-PERT (Critical Path Method - Project Evaluation and Review Technique) dan Simulasi Monte Carlo digunakan untuk memberikan estimasi tentang potensi risiko keterlambatan proyek berdasarkan hasil simulasi.

Simulasi Monte Carlo, kata Andrie, dapat digunakan untuk melakukan estimasi terhadap sesuatu yang tidak pasti dengan memanfaatkan sifat keacakan itu sendiri. Ilustrasi pemanfaatan keacakan dapat dilihat pada estimasi volume sebuah bentuk.

Untuk mengetahui volume dari sebuah benda, dibingkai dahulu dalam sebuah kubus. Lalu kita tempatkan titik-titik secara acak dalam jumlah sangat banyak di dalam kubus tersebut. Nanti titik-titik yang masuk pola ini kita hitung.

Perbandingan jumlah titik di dalam pola dengan jumlah seluruh titik di dalam kubus menunjukkan perbandingan volume benda terhadap kubus. "Jadi dari sesuatu yang tidak pasti ternyata bisa diketahui polanya. Itulah Simulasi Monte Carlo," kata Andrie Pasca di Kampus FTI UII Yogyakarta.

Dalam penelitiannya, Andrie Pasca menerapkan pada perusahaan pembangunan perumahan di beberapa tempat di Yogyakarta. Perusahaan jika diberikan tenggat waktu tertentu ada kemungkinan proyeknya selesai terlambat. Di sini Andrie melakukan analisis resiko, satu perusahaan jika diberikan tengat waktu sekian hari, kemungkinan akan terlambat berapa persen.

"Menggunakan Simulasi Monte Carlo, dapat diketahui suatu perusahaan bisa mengerjakan proyek tepat waktu kalau diberikan waktu tertentu. Namun antara perusahaan yang satu dan yang lain bisa berbeda-beda waktu penyelesaiannya," kata Andrie.

Menurut Andrie, penelitian tersebut menjadi daya tarik profesor NTNU untuk menerima dirinya sebagai kandidat doktor. "Profesor menilai penelitian saya itu benar-benar riil dan otentik. Mereka bisa menilai tulisan saya sejauh mana, latar belakang, metode yang digunakan dan analisisnya. Alhamdulillah, jumlah sitasi dari publikasi tersebut yang paling lumayan di antara portofolio yang saya miliki," terang Andrie.

Andrie Pasca tidak tahu, kala itu memiliki motivasi dan entah siapa yang menggerakkannya untuk melakukan penelitian tersebut. "Saya bilang, saya ini bukan orang yang pintar, tetapi saya bisa dibilang orang yang bejo. Saya bersyukur, alhamdulillah, telah digerakan Allah SWT," katanya.

Saat menjadi dosen, Andrie Pasca mengampu mata kuliah yang berkaitan dengan machine learning, data mining dan deep learning. Andrie Pasca juga menjadi instruktur pada Fresh Graduate Academy Digital Talent yang diselenggarakan secara tahunan oleh Kominfo. Acara ini merupakan kolaborasi beberapa dosen dari Prodi Informatika, Teknik Industri, Teknik Elektro, Teknik Mesin di FTI UII tahun 2019, 2021 dan 2022.

"Memberikan pelatihan kepada Fresh Graduate tentang machine learning, data sains. Sepertinya itu juga menjadi pertimbangan profesor di Norwegia untuk memilih saya," kata Andrie.

BACA JUGA : Tips Roaida Yanti Menjadi Mahasiswa UII Berprestasi, Aktivis, Entrepreneur, dan Penulis

Tak Sengaja

Andrie Pasca mengaku tidak sengaja menemukan lowongan kerja sekaligus menyelesaikan gelar S3 atau Doktor di NTNU. Memang tahun 2022, Andrie Pasca dan isterinya, Dina Tri Utari, SSi, MSc, dosen Prodi Statistika Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UII sedang bersama-sama mencari peluang untuk menempuh pendidikan S3.

"Kebetulan waktu browsing, menemukan ada lowongan yang betul-betul cocok, dari sisi requirement atau kebutuhannya, yang bisa coding Python atau programming, machine learning, simulasi monte carlo, dan statistik. Alhamdulillah, waktu itu saya sudah siap berbagai persyaratan yang diperlukan seperti sertifikat Bahasa Inggris, portofolio penelitian sudah saya bentuk, mulai dari tahun-tahun sebelumnya," kenang Andrie.

Sebelumnya, Andrie belum benar-benar menentukan negara tujuan. Ia pasrah kepada Allah SWT ke negara mana dia akan ditunjukkan. Pada akhirnya, NTNU Norwegia yang menjadi tempat terpilih bagi Andrie untuk studi lanjut.

Lowongan ini dibuka bagi peserta dari seluruh dunia. Jumlah pendaftar ada 22 orang yang terlihat di layar monitor. Namun setiap kandidat berhak menyembunyikan identitasnya agar tidak tampil di layar monitor. "Dari 22 pendaftar hanya diambil satu orang," kata Andrie dengan senyum bangga.

Selama di NTNU, Andrie akan membantu profesor untuk mengerjakan penelitian. Topik penelitian Reinforcement Learning untuk Meningkatkan Strategi Maintenance yang merupakan kombinasi dari lintas bidang keilmuan.

Meskipun belum mendapatkan deskripsi tentang proyek penelitiannya, namun jika melihat industri terbesar di Norwegia adalah pada bidang minyak dan gas. Penambangan minyak di Norwegia tidak di laut dangkal, tetapi di palung atau laut dalam. Sehingga tantangan industri minyak Norwegia lebih berisiko.

Untuk menyelesaikan program PhD ini, Andrie Pasca diberi waktu selama tiga tahun. "Berdasarkan kurikulumnya selesai selama tiga tahun. Beberapa skema lain memungkinkan adanya tugas tambahan mengajar. Untuk menyelesaikan S3, waktu tiga tahun itu merupakan waktu yang cepat. Rata-rata di Indonesia empat tahun," kata Andrie.

Andrie memililki cita-cita setelah meraih gelar PhD, akan membawa sesuatu dari Norwegia untuk dipersembahkan kepada UII. Sebab selama ini, Andrie Pasca merasa sudah banyak mendapat bantuan dari UII. Di antaranya, penelitian yang disponsori DPPM. Juga mendapat fasilitas dari Jurusan Teknik Industri yaitu kursus dan tes Bahasa Inggris. "Saya pengin membawa oleh-oleh yang bermanfaat secara jangka panjang ke UII," kata Andrie.

Andrie Pasca Hendradewa asli Karanganyar, Jawa Tengah. Ia menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Solo, Jawa Tengah. Setamat SD Muhammadiyah 1 Solo, melanjutkan ke SMPN 1 Solo dan SMAN 1 Solo.

Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, Andrie Pasca yang memiliki cita-cita menjadi dokter mendaftarkan diri di Fakultas Kedokteran UGM. Namun tidak diterima. Ia diterima pada pilihan kedua, Jurusan Matematika Institut Teknologi Bandung (ITB).

Pada waktu itu, Universitas Telkom Bandung juga membuka pendaftaran penerimaan mahasiswa baru. Andrie Pasca mendaftarkan diri dan diterima. Sehingga saat itu, Andrie Pasca dihadapkan pada dua pilihan yaitu apakah mau masuk ke Matematika ITB atau Universitas Telkom Jurusan Teknik Industri. "Setelah meminta pertimbangan orangtua, jatuh pilihan pada Jurusan Teknik, Universitas Telkom," kenang Andrie.

Setelah menyelesaikan S1 Jurusan Teknik Industri di Telkom University, kemudian melanjutkan S2 Institut Teknologi Bandung Jurusan Teknik Industri. "Pendidikan S1 dan S2 linier, tetapi bidang spesifikasinya berbeda. S1 lebih ke arah Sistem Informasi, S2 lebih ke ergonomi," katanya.

BACA JUGA : Melinska Lulusan Terbaik S1 Teknik Industri UII dan Miliki H Index Scopus

Bukan LPDP

Andrie Pasca menjelaskan program S3 yang diterima dari NTNU ini bukan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dari Kementerian Keuangan. Tetapi biasiswa yang langsung diperoleh dari profesor dari NTNU.

Perbedaan dengan LPDP pada aspek pertanggungjawaban keuangan. "Kalau LPDP, kita mengusulkan sebuah rencana penelitian kepada seorang profesor di perguruan tinggi yang diinginkan. Jika profesornya sanggup membimbing, kita mengajukan dana ke LPDP untuk membiayai biaya hidup dan SPP," jelas Andrie.

Namun program S3 yang didapatkan Andrie Pasca ini pertanggungjawabannya kepada profesor dan fakultas di NTNU. "Sebab profesor di NTNU sudah mempunyai rencana riset dan memilih saya sebagai pendampinginya," katanya.

Tugas utama Andrie Pasca selama di Norwegia melakukan penelitian. Namun tidak tertutup kemungkinan ada opsi tambahan seperti terungkap pada saat wawancara. Di antaranya, mengajar, membimbing mahasiswa. "Sepertinya tidak ada kuliah duduk di kelas. Murni riset," tandasnya.

Andrie Pasca juga mengungkapkan beberapa alasan memilih Norwegia sebagai tempat untuk meraih gelar Doktor. Di antaranya, Norwegia merupakan negara yang memiliki Indeks Kebahagiaan tinggi di seluruh dunia, kepercayaan warga terhadap pemerintah sangat kuat, dan warganya dengan senang hati membayar pajak yang termasuk tinggi di eropa maupun dunia, hampir 25 persen.

"Warga Norwegia yakin jika pajak yang mereka setorkan akan dikelola dengan baik oleh pemerintah untuk kesejahteraan rakyat dan di sana tingkat kesenjangan dan kriminalitasnya rendah," katanya.

Hal lain yang juga disenangi Andrie Pasca, di Norwegia ada konsep equality atau kesetaraan. Semua orang, dengan ras, agama dan suku apa pun memiliki hak yang sama untuk bisa berkembang. Di sana juga tidak mempedulikan peringkat universitas karena pendidikan sudah betul-betul merata, yang ada hanya spesifikasi bidang keilmuan.

Masyarakat di Norwegia juga tidak melihat jenis pekerjaan untuk membedakan kasta. Semua jenis pekerjaan apa pun layak mendapatkan kehormatan. "Misalnya, ada pekerja kasar, kantoran, dokter, insinyur. Mereka tidak menganggap pekerjaan sebagai gap atau perbedaan kasta. Selama mereka bekerja dan berusaha untuk bisa menghidupi keluarganya, mereka sama layaknya untuk dihormati. Saya senangnya itu, prinsip equality," ujar Andrie. (*)

BACA JUGA : Dr Qurtubi, Dosen UII dan Reviewer Jurnal Internasional Bereputasi

Ikuti informasi penting tentang berita terkini perguruan tinggi, wisuda, hasil penelitian, pengukuhan guru besar, akreditasi, kewirausahaan mahasiswa dan berita lainnya dari JURNAL PERGURUAN TINGGI. Anda juga bisa berpartisipasi mengisi konten di JURNAL PERGURUAN TINGGI dengan mengirimkan tulisan, foto, infografis, atau pun video. Kirim tulisan Anda ke email kami: [email protected]

Berita Terkait

Image

Prof Jaka Nugraha : Mahasiswa Butuh Pengayaan Ketrampilan agar Siap Kerja

Image

Prodi MTI UII Raih Akreditasi Unggul dari LAM Teknik, Ini Upaya Meraihnya

Image

UII dan PT Jasa Raharja Kerjasama Tekan Kecelakaan Lalu Lintas, Ini Upayanya

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

[email protected] (Marketing)

× Image