Jundi Nourfateha, Mahasiswa IUP IE UII Presenter Pitch Deck Startup di Austria, Ini Ikhtiarnya

Tips  
Jundi Nourfateha Elquthb. (foto : heri purwata)

JUNDI NOURFATEHA ELQUTHB, masih duduk di semester 5 Program Studi (Prodi) International Undergraduate Program in Industrial Engineering (IUP IE) atau Program Internasional Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (FTI UII). Namun Jundi sudah memiliki banyak prestasi, di antaranya, Indek Prestasi Komulatif (IPK) 3.80, asisten laboratorium, presenter pitch deck startup di Austria.

Jundi berhasil mengukir prestasi karena sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) sudah berpisah dengan orangtuanya dan hidup mandiri di asrama. Setelah lulus dari Sekolah Dasar (SD) di Temanggung, Jawa Tengah, Jundi masuk ke kelas multilingual di salah satu Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah di Yogyakarta. Di kelas akhir Aliyah sekitar satu bulan Jundi praktek mengajar dalam kegiatan mubaligh hijrah di Penang Malaysia.

BACA JUGA : Gisya Amanda, Mahasiswi Fast Track Teknik Industri UII dan Best Presenter, Ini Kiatnya

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Kehidupan Pondok Pesantren yang menganut sistem pelajaran long life education telah membentuk Jundi untuk efektif menggunakan waktu. Selain itu, sejak Tsanawiyah telah mendapatkan pelajaran bahasa asing, Inggris dan Arab. Kedua bahasa asing tersebut juga digunakan untuk bahasa pergaulan setiap harinya.

"Saya memilih International Program Teknik Industri karena waktu SMP dan SMA, basicnya sudah menggunakan Bahasa Inggris. Ini menjadi tantangan saya untuk studi lanjut ke luar negeri," kata Jundi Nourfateha Elquthb di Kampus FTI UII.

Selepas dari Madrasah Aliyah, Jundi memang bertekad untuk masuk jurusan Teknik Industri. Pemilihan Program Studi Teknik Industri ini karena mendapat masukan dari ayahnya, Dr Qurtubi yang juga dosen Teknik Industri FTI UII.

"Dulu sempat minat ke perguruan tinggi negeri, ITS (Institut Teknologi Surabaya) dan UNS (Universitas Sebelas Maret Surakarta). Jurusannya sama Teknik Industri. Tetapi mungkin di sana International Programnya berbeda dengan UII. Kalau di UII sudah jelas, sudah mendapatkan testimoninya. Tapi di ITS dan UNS belum mendapatkan testimoni dan informasinya," jelas Jundi.

Saat pertama kuliah di International Program Teknik Industri UII, Jundi mengikuti mata kuliah secara online. Awal kuliah memang ada kesulitan dalam menangkap mata kuliah yang diajarkan dosen yang seluruhnya menggunakan Bahasa Inggris.

BACA JUGA : Bridging, Mudahkan Mahasiswa Baru Program Internasional Teknik Industri UII Ikuti Kuliah

"Harus adaptasi. Kalau di SMA tidak semua bahasa pengantar mata pelajarannya menggunakan Bahasa Inggris. Kalau di kuliah ini langsung Bahasa Inggris full. Ya, masih ada yang belum paham saat diterangkan dosen, sehingga harus banyak bertanya kepada dosen," kenang Jundi.

Jundi pun sering menggunakan Google Translate untuk mendapatkan terjemahan istilah-istilah baru dalam Bahasa Inggris yang diterima di selama kuliah. Tetapi setelah semester 2, 3 dan seterusnya sudah terbiasa. Lebih mudah memahami materi mata kuliah.

Menurut Jundi, memilih International Program Teknik Industri banyak keuntungannya. Banyak kegiatan dan mendapat fasilitas dari Prodi dan Fakultas, seperti mengadakan Company Visit.

Di awal tahun 2022, Jundi dan kawan-lawannya mengadakan kunjungan ke PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) Cilacap, Jawa Tengah. Kemudian mereka melanjutkan kunjungan ke industri air minum dan pembuatan Antigen di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Juga ketika ada kunjungan mahasiswa dari Asia Tenggara ke International Program Teknik Industri UII, Jundi dan kawan-kawan dilibatkan. "Kita bisa langsung berdiskusi dengan mahasiswa asing. Kita bisa belajar langsung dari orang asing. Saat mendampingi, kita sering ngobrol. Kebetulan mahasiswa asing yang saya dampingi dari Malaysia," kata Jundi.

Jundi juga mengikuti Educational Visit 2022 ke beberapa industri dan institusi pendidikan di negara-negara Eropa Barat. Negara dan industri yang dikunjungi selama 10 hari, Rabu-Jumat (18-27/5/2022) adalah Perancis, Belgia, Belanda, Austria dan Jerman.

BACA JUGA : Tips Roaida Yanti Menjadi Mahasiswa UII Berprestasi, Aktivis, Entrepreneur, dan Penulis

Selama berkunjung ke lima negara, di bawah bimbingan Ir Ira Promasanti Rachmadewi MEng, Dosen Pembimbing Akademiknya. Jundi mengikuti Short Course/Lecture – Start up Development pada sebuah Business Incubators di University of Innsbruck Austria dan juga pada sebuah lembaga bernama Open Innovation City Bielefed di Kampus Fachhochschule des Mittelstands (FHM) Jerman.

Startup Pitch Deck merupakan kegiatan mahasiswa International Program Teknik Industri UII untuk mempresentasikan usaha Startup. Jundi menjadi salah seorang presenter di depan perwakilan kalangan Industri yang berkerja sama dengan University of Innsbruck di Austria, Inkubator Bisnis dan Kadin Kota Innsbruck.

Awal belajar menulisnya, Jundi mendapatkan bimbingan dari dosen, termasuk Dr Qurtubi. "Belajar menulis itu seperti kita melakukan penelitian. Atau data yang sudah ada kemudian kita olah menjadi sebuah paper. Di dalamnya, terdiri latar belakang, metode penelitian, pengolahan data, analisis dari data-data tersebut. Kemudian dituangkan dalam bentuk paper, setebal 5-6 halaman," kata Jundi.

Jundi juga memiliki pengalaman sebagai presenter di konferensi internasional secara online. Pertama, di The 6th Engineering Science and Technology International Conference (ESTIC) 2021 yang menyelenggarakan Universitas Bung Hatta, Sumatera Barat. Ia mempresentasikan makalah berjudul The Influence of Order Process and Transportation on The Quality of Service: Case Study at Sharia Compliant Hotel.

Kedua, di The International Conference on Sustainable Islamic Business and Finance (SIBF) 2021, yang menyelenggarakan University of Bahrain. Judul presentasnya, The Influence of Product and Price to Customer Satisfaction: Case Study at Sharia Compliant Hotel.

Tanggal 22-24 Mei 2023 Jundi akan mempresentasikan makalah dengan judul Issues and Opportunities Research in the Field Logistics Performance di the 1st Internasional Conference on Logistics di University of Jeddah Saudi Arabia secara offline.

Pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), Jundi bersama teman-temanya mendapat pendanaan dari Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Juni 2021. Jundi dan kawan-kawan berhasil membuat video berupa Gagasan Futuristik Konstruktif Scheme yang menceritakan tentang penanganan sampah.

"Dalam video itu menceritakan tentang mesin Plus Treat. Mesinnya membantu kita mengurangi sampah dan memanfaatkannya dalam bentuk uang. Misalnya, kita setor botol bekas kita akan mendapatkan uang yang langsung masuk ke account kita," katanya.

BACA JUGA : Melinska Lulusan Terbaik S1 Teknik Industri UII dan Miliki H Index Scopus

Jundi membuat videonya dengan harapan agar mesin itu banyak diketahui oleh masyarakat dan bisa mencontoh. "Kita mendapat pendanaan dari PKM sekitar Rp 5 juta. Tahap akhir kita presentasi kepada tim juri. Mungkin belum rezekinya, tidak berlanjut ke PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional)," ujar Jundi.

Jundi juga dipercaya menjadi asisten laboratorium. Untuk bisa menjadi asisten laboratorium harus mendaftarkan diri sebagai Balonten (Bakal Calon Asisten). Kemudian mengikuti seleksi dan terpilih sebagai Caten (Calon Asisten) selama satu-dua semester tahun 2021, saat Jundi masih duduk di semester 2.

Saat terpilih sebagai Caten, Jundi mendapat pelatihan sebelum menjadi asisten laboratorium. Pelatihannya seputar materi mata kuliah yang akan dipelajari selama menjadi asisten. "Saya menjadi asisten mulai awal tahun 2022 ini, Maret atau April. Tetapi secara resmi baru bulan Juni 2022. Nanti jadi asisten selama dua periode. Mungkin sampai 2023 atau 2024," katanya.

Sebagai Asisten Laboratorium Data Mining, Jundi membantu dosen mengampu mata kuliah Statistika, dan Analisis Keputusan Data Mining. "Misalnya, pekan ini kelas materi dari dosen, pekan depannya kelas software, kita memaparkan dulu cara penggunaan software. Kemudian praktek mengarahkan penggunaan software," terangnya.

Jundi memiliki cita-cita setelah lulus S1 Teknik Industri, akan lanjut ke S2 atau magister. "Penginnya melanjutkan di perguruan tinggi luar negeri," pungkas Jundi. (*)

BACA JUGA : Dr Qurtubi, Dosen UII dan Reviewer Jurnal Internasional Bereputasi

Ikuti informasi penting tentang berita terkini perguruan tinggi, wisuda, hasil penelitian, pengukuhan guru besar, akreditasi, kewirausahaan mahasiswa dan berita lainnya dari JURNAL PERGURUAN TINGGI. Anda juga bisa berpartisipasi mengisi konten di JURNAL PERGURUAN TINGGI dengan mengirimkan tulisan, foto, infografis, atau pun video. Kirim tulisan Anda ke email kami: [email protected]

Berita Terkait

Image

Prof Jaka Nugraha : Mahasiswa Butuh Pengayaan Ketrampilan agar Siap Kerja

Image

Prodi MTI UII Raih Akreditasi Unggul dari LAM Teknik, Ini Upaya Meraihnya

Image

UII dan PT Jasa Raharja Kerjasama Tekan Kecelakaan Lalu Lintas, Ini Upayanya

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

[email protected] (Marketing)

× Image