Kolaborasi Dosen Prodi Kimia dan Kelautan UNIPA Kembangkan Pelet Ampas Sagu

Teknologi  
Tim dosen dan mahasiswa UNIPA yang mengembangkan pakan ikan atau pelet dari ampas sagu lokal Manokwari. (foto : istimewa)

JURNAL PERGURUAN TINGGI -- Tim riset, kolaborasi Program Studi (Prodi) Kimia Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dan Prodi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Papua (UNIPA) mengembangkan pakan ikan atau pelet dari ampas sagu lokal Manokwari. Hasilnya, perkembangan ikan yang mendapat pakan hasil riset desa selama satu bulan mengalami kenaikan rerata sebesar 82%.

"Hal ini menandakan bahwa ampas sagu berpotensi sebagai bahan baku pengganti sumber karbohidrat pada pakan ikan," kata Dr Darma Santi, SSi, MSc, Ketua Tim Riset Desa di Prodi Kimia UNIPA, Selasa (9/8/2022).

BACA JUGA : Tim Dosen S2 PEP UNY Latih Guru SD Membuat Soal HOTS

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Dijelaskan Darma Santi, tim riset Pengabdian Kepada Masyarakat(PKM) Desa terdiri dari empat dosen dan enam mahasiswa. Mereka adalah Dr Darma Santi, SSi, MSc, Ketua Tim; Markus Heryanto Langsa, SSi, MSc, PhD dan Dr Jacson V Morin, SSi, MSc (tiga dosen Prodi Kimia), dan Tresia Sonya Tururaja, SIK, MSi (satu dosen Prodi Ilmu Kelautan).

Enam mahasiswa adalah Pitornela Ribka Aronggear, Hilkia Duma, Muchammad Fauzan Kuri Pasai dan Margaretha Fatem dari Prodi Kimia. Sedang Nelly E Marice Sayori dan Alvinas Kayukatui dari Prodi Ilmu Kelautan.

Dijelaskan Santi, latar belakang kegiatan PKM ini melimpahnya ampas hasil pengolahan sagu sebagai bahan makanan pokok lokal di Manokwari. Selama ini, ampas sagu hanya menjadi limbah dan tidak dimanfaatkan warga.

Menurut Santi, kandungan karbohidrat ampas sagu yang cukup tinggi menjadi pertimbangan bahan baku alternatif untuk membuat pakan ikan atau pelet. Ampas sagu dapat dimanfaatkan sebagai pengganti sebagian komposisi bahan baku pelet yang relatif lebih mahal seperti dedak.

Proses pengolahan ampas sagu menjadi pelet. (foto : istimewa)

Dalam pelaksanaan PKM, Tim Riset Desa membuat kolam uji yang berada di lahan milik warga. Ada enam kolam dengan jenis ikan yang sama, namun ikan diberikan komposisi pakan yang berbeda-beda. "Tim juga mengontrol mutu air kolam uji dan memantau perkembangan ikan secara periodik sebagai bentuk aplikasi dua keilmuan yang saling sinergis,” kata Santi.

BACA JUGA : KKN PPM UGM Bantu Kembangkan Agrowisata dan Kopi Samosir

Kegiatan pengabdian ini, tambah Santi, merupakan program riset desa dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). dengan Universitas Papua.

Rangkaian kegiatannya, kata Santi, tim riset melakukan survei lokasi tempat pembuatan kolam uji, pembersihan lahan kolam, instalasi kolam ikan. Kemudian dilanjutkan dengan pemasangan mesin pelet ikan, instalasi air kolam, pencetakan pelet ikan, dan penerapan pakan ikan hasil pengembangan di kolam uji, pemantauan baku mutu air kolam ikan dan pengukuran bobot ikan secara periodik.

Menurut Santi, kegiatan ini memiliki dampak yang luas, bukan saja kepada mitra sebagai objek pengabdian akan tetapi bagi mahasiswa yang merupakan subjek dari kegiatan pengabdian masyarakat ini. Mahasiswa memberi kontribusi nyata dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi warga kampung melalui penerapan keilmuan mereka.

Metode pembelajaran yang didapatkan mahasiswa, kata Santi, berupa Problem Based Learning dan Project Based Learning. Mereka belajar mengidentifikasi permasalahan di masyarakat kampung/mitra. Selanjutnya, mereka menyusun desain pemecahan secara sistematis melalui pendekatan prakmatis dan interdisipliner. Mahasiaswa juga berperan aktif secara nyata dan terlibat dalam kegiatan bersama warga sebagai bentuk tanggung jawab bersama dalam membangun desa.

BACA JUGA : Tiga Dosen Kimia UII Kembangkan Fotokatalis untuk Atasi Limbah Batik

Berdasarkan proses pembelajaran tersebut, terang Santi, mahasiswa dapat mengembangkan pemikiran berdasarkan ilmu teknologi dan dalam upaya menumbuhkan, mempercepat serta mempersiapkan kader-kader pembangunan.

Peran mahasiswa dalam pengabdian masyarakat ini mendapat apresiasi dalam bentuk rekognisi mata kuliah maksimum 20-21 SKS (satuan kredit semester) yang dilakukan dengan cara bentuk bebas (free form) atau hibrida (gabungan bentuk bebas dan bentuk terstruktur dengan tawaran dua jenis format) pada dokumen kurikulum.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dikemas dalam bentuk Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) sesuai dengan arahan Kemendikbudristek. Mata kuliah terstruktur disajikan dalam bentuk Kuliah Kerja Nyata (KKN) MBKM dan Pelatihan Kerja Lapangan (PKL) MBKM. Daftar Mata Kuliah Pilihan Program Riset Desa diberikan dengan akronim: “Jamu Vit C AnDaLan Desa.”

"Kegiatan riset desa ini juga memberikan pengaruh positif terhadap warga sekitar. Warga merasa tertarik dengan pemanfaatan ampas sagu ini, dan memunculkan ide-ide lain yang inovatif dan memanfaatkan limbah di sekitarnya, seperti limbah olahan tahu dan tempe, limbah olahan ikan asin, ataupun memanfaatkan bekicot yang menjadi hama tanaman," kata Santi. (*)

BACA JUGA : Fitohormon Perkuat Tanaman Hadapi Perubahan Iklim Global

Pelet dari ampas sagu. (foto : istimewa)

Ikuti informasi penting tentang berita terkini perguruan tinggi, wisuda, hasil penelitian, pengukuhan guru besar, akreditasi, kewirausahaan mahasiswa dan berita lainnya dari JURNAL PERGURUAN TINGGI. Anda juga bisa berpartisipasi mengisi konten di JURNAL PERGURUAN TINGGI dengan mengirimkan tulisan, foto, infografis, atau pun video. Kirim tulisan Anda ke email kami: heri.purwata@gmail.com.

Berita Terkait

Image

Program Magister Informatika UII Cetak Pribadi Orisinal

Image

Kartu CLEO, Permudah Siswa Belajar Kimia Karya Mahasiswa UGM

Image

Indonesia Perlu Kembalikan Kedaulatan dan Kemandirian Maritim

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image