Melon Hikapel atau Handy Melon, Inovasi Pakar UGM, Ini Penampakannya

Teknologi  
Budi Setiadi Daryono memperlihatkan buah Melon Hikapel dan benih untuk ditanam. (foto : istimewa)

JURNAL PERGURUAN TINGGI -- Prof Dr Budi Setiadi Daryono, MAgr Sc, inventor melon Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta berhasil mengembangkan Melon Hikapel atau Handy Melon atau melon sebesar genggaman tangan. Melon Hikapel ini berukuran kecil dan memiliki berat antara 300-800 gram per buah.

Dijelaskan Budi Setiadi Daryono, meski ukuran relatif kecil, Melon Hikapel ini tetap memiliki rasa melon pada umumnya dan aroma harum. Rasanya tetap manis dengan daging buah berwarna oranye.

BACA JUGA : 'KORSIMU' Inovasi Dosen UNISA, Kursi untuk Ibu Menyusui, Ini Keunggulannya

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

“Melon Hikapel ini mengandung senyawa betakaroten yang cukup tinggi berguna bagi kesehatan mata, kaya antioksidan serta mengandung vitamin C dan beberapa mineral lainnya,” kata Budi Setiadi Daryono kepada wartawan di Yogyakarta, Senin (9/1/2023).

Budi Setiadi Daryono yang juga Dekan Fakultas Biologi UGM ini menambahkan kulit Melon Hikapel memiliki gradasi warna dari krem hingga oranye. Gradasi warna tersebut menjadi penanda tingkat kematangan buah.

"Hikapel bisa dikonsumsi ketika kulit buah sudah berwarna krem. Tetapi untuk mendapatkan rasa manis yang sempurna carilah Hikapel dengan warna kulit yang telah berubah menjadi oranye," kata Budi Setiadi Daryono.

Selain sarat dengan kandungan gizi, kata Budi, melon jenis ini juga memiliki masa tanam yang relatif lebih cepat dibandingkan melon pada umumnya yakni 60 hari. Sedang tanaman melon biasa, umumnya memiliki masa tanam 90 hari.

BACA JUGA : Teknologi Rekayasa Jaringan Bakal Jadi Terapi Regeneratif Biomedis, Ini Penjelasannya

Selain itu, Melon Hikapel memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan dengan melon biasa. "Kalau melon Hikapel ini harga jualnya Rp 35 ribu per kilogramnya di sekitar Yogyakarta. Sedangkan melon biasa, umumnya per kilogramnya Rp 10 ribu. Jadi nilai ekonomi Melon Hikapel cukup besar,” tambahnya.

Menurut Budi, kehadiran Melon Hikapel ini mendapat sambutan positif dari masyarakat. Buktinya, Hikapel berhasil menembus pasar perdagangan buah yang cukup kompetitif. Buah ini telah banyak dijumpai di sejumlah toko swalayan atau retail di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jabodetabek.

Bahkan melon ini sudah dikembangkan menjadi salah satu produk ekspor buah-buahan Indonesia. Melalui kolaborasi dengan beberapa perusahaan nasional dan internasional, Budi dan tim bergerak memproduksi buah dalam skala besar dan memasarkan untuk konsumen dalam dan luar negeri.

Untuk mengembangkan Melon Hikapel, Budi dan Tim menjalin kerja sama dengan mitra, terutama pengembangan benih melon Hikapel. Sehingga benih melon ini siap untuk dipasarkan sebagai benih unggul untuk menguatkan industri benih nasional.

BACA JUGA : Cegah Kekeringan, UGM Pasang Geomembrane di Embung Selopamioro, Keren!

Kelahiran Melon Hikapel

Budi Setiadi Daryono mengungkapkan kelahiran Melon Hikapel berawal dari keluhan para emak-emak perkumpulan sosialita di Yogyakarta dan Jakarta. Pada tahun 2011, Budi menawarkan pada emak-emak melon hasil risetnya, yaitu Melodi Gama 1, 2, dan 3 serta melon GMB dan Tacapa. Jenis melon tersebut dikembangkan Budi antara tahun 2008-2010.

Namun para emak itu mengeluhkan besar dan beratnya buah melon yang ditawarkan. Besar dan berat buah melon inovasinya menyerupai buah semangka. Sehingga kondisi itu membuat buah melonnya tidak praktis dibawa maupun dikonsumsi. “Ribet katanya, selain itu juga tidak habis sekali makan karen abesar sehingga harus disimpan dikulkas yang tentunya memakan tempat,” kenang Budi Setiadi Daryono.

Keluhan tersebut, membuat Budi dan Tim berupaya untuk membuat inovasi melon yang sesuai dengan keinginan emak-emak. Akhirnya, tahun 2012, lahir buah melon Hikadi Apel (Hikapel) yang buahnya menyerupai apel dengan ukuran handy tidak lebih dari satu kilogram.

Kemudian Budi dan Tim mengembangkan hasil risetnya dengan pendanaan Riset Inovatif Produktif (Rispro), Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tahun 2015-2017. Sehingga tercipta Melon Hikapel atau sering disebut sebagai handy melon atau melon yang sebesar genggaman tangan. (*)

BACA JUGA : 'KLINIKOO Dental Scanning,' Aplikasi Deteksi Dini Kesehatan Gigi, Inovasi FT UGM, Silakan Coba

Budi Setiadi Daryono memperlihatkan Melon Hikapel yang sudah masak (warna oranye) dan sudah layak konsumsi (warna krem). (foto : istimewa)

Ikuti informasi penting tentang berita terkini perguruan tinggi, wisuda, hasil penelitian, pengukuhan guru besar, akreditasi, kewirausahaan mahasiswa dan berita lainnya dari JURNAL PERGURUAN TINGGI. Anda juga bisa berpartisipasi mengisi konten di JURNAL PERGURUAN TINGGI dengan mengirimkan tulisan, foto, infografis, atau pun video. Kirim tulisan Anda ke email kami: [email protected]

Berita Terkait

Image

Mahasiswa KKN UGM Kembangkan Wisata Panas Bumi di Kawah Sikidang Dieng

Image

Pakar UGM: Lansia di DIY Butuh Pemberdayaan dan Pendampingan Sosial

Image

Mahasiswa UGM dan SUTD Singapura Kolaborasi Belajar Kelompok

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

[email protected] (Marketing)

× Image