Perry Warjiyo Terpilih sebagai Penerima Anugerah HB IX 2022, Ini Kiprahnya

Info Kampus  
Penyerahan Anugerah HB IX pada Rapat Terbuka Peringatan Dies Natalis UGM ke73. (foto : istimewa)

JURNAL PERGURUAN TINGGI -- Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, SE, MSc, PhD, terpilih sebagai sosok yang penerima Anugerah Hamengku Buwono (HB) IX. Anugerah HB IX diserahkan pada Universitas Gadjah Mada pada Rapat Terbuka Dies Natalis UGM ke 73 Universitas Gadjah Mada (UGM) di Grha Sabha Pramana UGM, Senin (19/12/2022).

Anugerah HB IX diserahkan langsung Rektor UGM, Prof dr Ova Emilia M Med, Ed, Sp OG(K), PhD, dan Ketua Dewan Guru Besar UGM Prof Dr Ir Mochammad Maksum, MSc. Perry Warjiyo ditetapkan sebagai tokoh nasional yang dianggap layak mendapatkan penghargaan atas dedikasinya pada bangsa dan kemanusiaan.

BACA JUGA : UGM Kembali akan Berikan HB IX Award, Silakan Usul dan Ini Syaratnya

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Perry Warjiyo mengaku belum pantas menerima penghargaan prestisius saat menyampaikan orasi di Keraton Yogyakarta. Sebab menurutnya, penerima penghargaan ini dianggap meneladani karakter dan keteladanan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Ngarso Dalem HB IX telah berjasa dalam mempertahankan bangsa Indonesia di tengah agresi militer belanda hingga akhirnya ibu kota dipindah ke Yogyakarta.

Selain itu, Sri Sultan HB IX juga menginisiasi pendirian kampus UGM dengan menyatukan berbagai sekolah pendidikan tinggi yang ada di sekitar DIY. “Saya merasa belum pantas. Saya anak desa, anak petani dinasehati hidup itu harus amanah. Saya belum apa-apa dibandingkan dengan sinuhun,” katanya

Menurut alumnus Fakultas Ekonomi UGM tahun 1982 ini, penghargaan yang diberikan padanya tidak lepas dari sepak terjang yang dilakukannya dalam memimpin Bank Indonesia. ”Apa yang dilakukan Bank Indonesia agar kita lepas dari krisis merupakan kerja dari segenap para pimpinan BI yang sudah memiliki pengalaman mengatasi krisis termasuk krisis multidimensi pandemi covid-19,” ujarnya.

BACA JUGA : Rektor UWM Meminta Wisudawan Warisi Karakter HB IX

Dalam memimpin Bank Indonesia, kata Perry, banyak belajar dari keteladanan Sri Sultan Hamengku Buwono IX bahwa seorang pemimpin itu harus memiliki sikap konsisten, inovatif, bersinergi. Konsistensi dirinya ditunjukkan dengan melaksanakan amanah secara konsisten.

"Seorang pemimpin itu harus melaksanakan amanah secara konsisten. Jangan tergiur politik dan kita bersyukur dengan apa yang diwariskan HB IX, mendidik kita jadi pemimpin yang konsisten dengan pemahaman akademik yang kita miliki dan betul menetapkan kaidah ilmu dalam melaksanakan amanah. Semakin ke atas, hembusan angin politik semakin kencang. Jika tidak menggunakan kaidah akademik yang dididik di UGM maka kita bisa goyah," jelasnya.

Selanjutnya, pemimpin harus banyak melakukan inovasi dalam memutuskan sebuah keputusan atau kebijakan. Menurutnya saat jadi pemimpin berbeda dengan pemahaman yang dimiliki dalam teori akademik karena yang di lapangan masalah yang dihadapi bersifat kompleks sehingga asumsi dalam sisi akademik belum tentu sama dengan fakta di lapangan. “Perlu inovasi dan terobosan dalam mengatasi masalah, namun tetap konsisten pada akademik dengan memperkuat terobosan ilmu dan cara baru,” paparnya.

Sinergi dan kolaborasi, menurut Perry harus dimiliki seorang pemimpin dikarenakan dalam menelurkan suatu kebijakan tidak bisa asal semaunya namun perlu bersinergi. Bahkan di Bank Indonesia, ia melakukan hal itu dalam merumuskan setiap kebijakan fiskal dan moneter.

BACA JUGA : Patung Craki, Apresiasi UGM pada Penjual Jamu Gendong, Ini Penjelasannya

Dalam kesempatan itu, Perry bercerita pengalamannya dalam mengatasi ancaman krisis dan resesi ekonomi pada awal Pandemi Covid-19. Meski BI sudah berpengalaman dalam mengatasi krisis ekonomi tahun 1997 dan 1998 dan krisis ekonomi pada tahun 2008, namun krisis yang disebabkan Pandemi Covid-19 justru yang paling parah karena hampir seluruh negara mengalaminya karena ada pembatasan aktivitas kegiatan ekonomi.

"Ancaman krisis dimulai di awal pandemi, investor global panik dalam dua minggu sekitar 11 miliar dollar atau 175 triliun rupiah keluar dari Indonesia. Lalu nilai kurs rupiah hampir tembus Rp 17 ribu bahkan bisa Rp 20 ribu. Lima bank akan tutup. Rumah sakit penuh. Sudah cari oksigen. Mau beli vaksin tidak punya duit. Harga vaksin waktu itu 40 dollar per ampul," katanya.

Bersinergi dengan pemerintah melalui Kementerian Keuangan, kata Perry, BI mengeluarkan kebijakan menurunkan suku bunga acuan terendah 3,5 persen. Selanjutnya untuk mengendalikan nilai rupiah, BI mengucurkan dana hingga Rp 200-300 triliun untuk menstabilkan nilai tukar rupiah serta menambah likuiditas hingga Rp 805,5 triliun agar perbanka tetap berjalan.

Meski begitu, kebijakan yang dibuat BI harus berlandaskan dengan pijakan hukum yang kuat. Oleh karena itu, bersinergi dengan pemerintah pihaknya menelurkan UU tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Coronavirus Disease 2019. “Harus ada landasan hukum yang jelas. Lalu ada keputusan bersama antara BI dan Kemenkeu menungkinkan BI membiayai Rp 1.144 triliun selama tiga tahun,” katanya.

Pengalaman dalam menghadapi ancaman krisis ekonomi multidimensi selama pandemi ini, Perry mengaku memetik pelajaran penting bahwa dibalik setiap kesulitan selalu ada kemudahan. Di setiap kegelapan ada jalan terang dan di setiap masalah selalu ada berkah.

BACA JUGA : Indonesia Siap Menghadapi Resesi Ekonomi 2023, Ini Analisa Pakar Ekonomi UGM

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam pidato sambutannya mengatakan suatu kehormatan bagi keluarga besar Keraton Yogyakarta pemberian Anugerah HB IX menjadi tradisi rangkaian kegiatan Dies Natalis UGM setiap tahunnya. “Menjadi kehormatan sekaligus menjadi motivator untuk meningkatkan pengabdian dan prestasi dari penerima anugerah ini,” kata Sultan HB X.

Soal pemakaian nama HB IX dalam penganugerahan ini, menurut Sri Sultan HB X, sudah mendapat persetujuan dari keluarga Keraton Yogyakarta. Ia bercerita bahwa ayahandanya pernah berpesan jika ia sudah meninggal dunia, ia tidak ingin namanya disematkan pada nama jalan, patung ataupun nama gedung.

"Suwargi sebelum beliau mangkat, berpesan jangan sampai nama beliau dijadikan patung, nama jalan, nama gedung ataupun yang lain. Selama ini, hanya dua momen yang saya setujui, dipasang gambarnya pada uang sepuluh ribu saat perayaan hari BI. Lalu Anugerah HB IX dan yang lain tidak pernah kami setujui,” katanya.

Menurut Sultan HB X, Perry Warjiyo sebagai tokoh penerima Anugerah HB IX tahun ini sudah tepat. Selama menjadi Gubernur BI, Perry banyak melakukan terobosan di bidang kebijakan moneter nasional dan global. “Dipandang tepat sidang DGB (Dewan Guru Besar) dengan menetapkan Bapak Perry Warjiyo. Sebagai nahkoda dalam penanggulangan ekonomi kita di saat pandemi sehingga ekonomi tidak terperosok terlalu dalam dan negara kita tangguh menghadapi krisis ini,” kata Sultan HB X.

Sementara Rektor UGM, Prof Ova Emilia mengatakan Perry Warjiyo merupakan sosok yang tekun dalam kiprahnya menjalankan kebijakan perekonomian nasional. “Selamat kepada Bapak Perry Warjiyo yang mendapatkan anugerah ini merupakan sosok yang tekun dalam kiprahnya menjalankan kebijakan ekonomi nasional dan berhasil meraih prestasi di bidang ini. Semoga anugerah ini memberikan motivasi bagi pembangunan bangsa dan bisa meneladani karakter dan teladan dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX,” kata Ova. (*)

BACA JUGA : UGM dan KONI Pusat Kerjasama Perbaiki Prestasi Atlet di Kancah Internasional

Perry Warjiyo saat menyampaikan orasi di Keraton Yogyakarta. (foto : istimewa)

Ikuti informasi penting tentang berita terkini perguruan tinggi, wisuda, hasil penelitian, pengukuhan guru besar, akreditasi, kewirausahaan mahasiswa dan berita lainnya dari JURNAL PERGURUAN TINGGI. Anda juga bisa berpartisipasi mengisi konten di JURNAL PERGURUAN TINGGI dengan mengirimkan tulisan, foto, infografis, atau pun video. Kirim tulisan Anda ke email kami: [email protected]

Berita Terkait

Image

Mahasiswa KKN UGM Kembangkan Wisata Panas Bumi di Kawah Sikidang Dieng

Image

Pakar UGM: Lansia di DIY Butuh Pemberdayaan dan Pendampingan Sosial

Image

Mahasiswa UGM dan SUTD Singapura Kolaborasi Belajar Kelompok

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

[email protected] (Marketing)

× Image